AGAMA APA YANG PANTAS BAGI POHON-POHON?
Karya: Eko Triono
ditulis ulang oleh: Rudi Rendra
Sebelum kau bertanya, “Agama apa yang pantas
bagi pohon-pohon?” hujan lebih dahulu berwarna tembaga.
Merkuri yang tinggi, tegak dan melengkung:
berbaris menundukkan kepala di sisi jalan Provinsi J., dan kita mengira mereka
sedang sibuk, atau mungkin berkabung, pada lalu lintas yang senantiasa
bergegas, seperti saat, seperti waktu (yang kerap terlepas dan bersambung). Penerangan
dalam bus dimatikan, sejak beberapa jam yang lalu.
Penumpang yang lain sepenuhnya mengantuk;
nyaris terlelap, punah dari jaga seolah mereka akan tinggal di bus ini untuk
selama-lamanya. Lelehan hujan yang mengalir pada jendela kaca jatuh lebih nyata
dari yang semestinya. Dan, entah mengapa, tiba-tiba kita saling bertanya: benarkah
di suatu kota, hujan dan gerimis dapat berubah menjadi logam? Dan hari akan
bercadar,, dan kita benar akan sampai?[1]
Kau senyum tipis: jadi logam mulia, atau,
logam hina?
Aku mengangkat bahu.
Itu buka soal.
Kita saling meletakkan pandangan di dalam
perasaan masing-masing.
Dan di luar, cuaca saat ini adalah kabut dalam
lanskap gelap rawa-rawa pantai. Ada pula nuansa kota-kota yang kita lintasi;
lapak-lapak tenda dengan lampu neon 15 watt, tempat isi ulang pulsa, ATM,
penjual buah, rumah-rumah dengan beranda, restoran, apotek 24 jam,
gambar-gambar kangen di bak truk, pasangan yang saling berboncengan dengan
lambat, dan itu, sepotong bulan biscuit yang selalu terlambat 4 menit;
bergelantungan pada kemiringan 30 derajat di arah Timur.
Dan kau mulai bercerita soal bulan. (Cerita
yang tidak kusukai karena alasan pribadi).
Bahwasannya, pada suatu malam yang ceria, hari
sabtu, kalian pernah duduk-duduk di halaman rumah kontrakan. Zafin, putra kecil
kalian, begitu menggemaskan. (Aku membayangkan bentuk muka, pakaian, dan gaya
sisiran rambutnya). Dan, katamu kemudian, sepotong bulan biscuit, muncul dari
semak-semak nyiur, dari arah sungai yang tersembunyi arusnya.
Zafin terpesona melihatnya. Ia kemudian
bilang:
“Mama, mengapa malam-malam begini ada
matahari?”
“Itu bukan matahari, Sayang,” katamu (disertai
senyum ingatan geli), “itu bulan.”
“Dan kamu tahu? Zafin memandang penuh takjub,
tak henti-henti, hingga seluruh sinar bulan itu menggenang di air mukanya. Dan tak
kusangka memang, ternyata ia baru pertama kali lihat yang namanya bulan. Ia pun
bertanya lagi, ‘Itu bulan siapa, Ma?’ Kami sempat bingung. Kujawab saja, itu bulan
kepunyaan Tuhan, Sayang. Dan ia malah lanjut bertanya, ‘Tuhan? Siapa dia?
Kakek-kake nelayan, ya? Mengapa dia menaruh bulannya di sana? Rumahnya di
seberang sungai ya, Ma? Kita main ke sana, yuk! Kita pinjam bulannya, buat
dipasang di kamar Zafin.’ Kami terdiam. Antara lucu dan tak mengerti isi
pikiran Zafin. Untung ada penjual molen lewat. Zafin suka molen pisang. Dan pertanyaan
tadi, ia abaikan dalam seketika.”
Aku minta izin padamu untuk merasa gembira,
tepuk tangan, dan berkata, bahwa barangkali, putramu itu akan menjadi seorang
filsuf, atau, penyair.
(Meski sebenarnya aku muak dengan kebahagiaan
kalian, dan, benci mengatakan pujian palsu).
Kusebut-sebut perihal mukjizat yang sering
kali terabaikan, teralihkan oleh dorongan menjadi ideal yang lain. Kau menanggapi
dengan baik. Malahan, kau menyinggung-nyinggung tentang seorang penyair, yang
karena patah hati, lalu memilih jadi relawan di daerah konflik. Dia berpindah
dari satu tempat ke tempat yang lain. Di sana, kata dia, hujan malah berubah
jadi peluru. Tajam dan sering kali berdarah. Kelaparan, pengungsi, kemah-kemah
penuh penyakit, mi instan, dan seterusnya.
Dia masih muda, tapi sayang, cinta yang gagal
membuatnya lebih menderita 10 tahun dari usia kebahagiaan yang seharusnya dia
miliki. Hari-harinya adalah menulis laporan pembantaian, tinggal di antara
orang-orang yang tak lagi paham arti
merdeka dan tanah air, menghibur anak-anak yang kehilangan ayahnya, meneplok
nyamuk yang begitu banyak di malam gelap musim hujan, dan seterusnya.
Aku buru-buru menambahkan, “Dan dia selalu
merindukan cintanya yang hilang, menulis sajak yang dirahasiakan, dan, menyusun
surat cinta yang tak pernah dikirimkan.”
Kau tersenyum meledek:
“Lalu dia mencoba pulang, entahh untuk alasan
apa.”
(Kau ini, memang paling bisa).
Dia pulang untuk sesuatu yang masih
dirahasiakan, kataku.
Kemudian, dia bertemu dengan cintanya yang
membuat menderita itu, yang telah memiliki anak dan rajin bercerita tentang
anaknya. Mulai dari ketika dia belajar memanggil ayahnya dengan cadel, sampai
soal menyebut bulan sebagai matahari yan datang di malam hari, dan, ingin
memindahkannya ke kamar ---tentu dengan kemiringan yang sama, 30 derajat dari
arah Timur. Mereka berusaha bercakap-cakap seolah tak pernah ada apa-apa; tak
pernah mengenali satu sama lain, tak pernah menyentuh satu sama lain.
“Apa pertemuan itu suatu kebetulan?”
Salah satu pertanyaan darinya.
“Kebetulan? Apa itu kebetulan?” kata si
penyair. “Angk dalam lotre murahan yang dijagai lelaki tua di tepi jalan, atau
saat tiba-tiba kita ada dan tiba-tiba tiada?”
“Sayang sekali, sudah taka da lagi tempat
bagimu untuk menyimpan puisi-puisi. Dunia sudah sesak, sudah penuh.”
“Dan sudah menyakitkan bagi perempuan yang
baru dicerai; dihapus dari kalimat cinta fiktif.”
Kita diam.
Dendam silih dalam jam digital berwarna merah
saga, di dekat kondektur, saling sulih dengan dingin.
Aku menyandarkan punggung, lelah.
Dan kita memang sudah lama tak menyenangkan
lagi.
Cahaya-cahaya saling berpapasan dan melewati. Jalanan
berlorong. Berlabirin. Kita seperti melaju dalam pori-pori terumbu karang. Lagu-lagu
lambat diayunkan membuat penumpang lain makin lelap. Kita hanya mampu menahan
tawa, saat lirik dari Queen seperti sengaja dilemparkan oleh kondektur pada
kita: “To much love, will kill you…” Kita, pada hari yang telah silam,
sebenarnya pernah seperti ini. Bedanya, ketika itu kau bersandar di bahuku,
dan, kadang kau diam-diam mencuri waktu untuk mencium pipiku dan mengatakan:
“Senyummu terlalu manis untuk seorang pemikir
yang berlagak serius,” (matamu menggoda).
Dan kita mengisi perjalanan dengan menerka apa-apa
yang terjadi di antara rumah pada tepian jalan yang kita lintasi.
“Kamu tahu, anak itu bilang pada ayahnya:
Ayah, mengapa gula-gula kapas berwarna merah muda?”
Ayahnya bilang, katamu selanjutnya, “Itu
karena pedagangnya ingin punya anak perempuan yang cantik, yang punya leher
indah.”
“Bukan begitu,” aku merasa tidak setuju,” anak
itu justru berkata: Ayah, jangan biarkan aku menjadi dewasa. Kemudian dilahapnya
gula-gula kapas itu sambil berdoa sagar ia tak lekas menjadi besar. Lihatlah…”
Kau tertawa, mana ada anak kecil secerdas itu.
anggap saja dia pernah mendengar cerita betapa menyakitkannya menjadi dewasa;
terbatas dari kebebasan melakukan apa pun, menanyakan apa pun.
Kau menatapku, benarkah kita telah menjadi
dewasa? Aku mengangguk. Kita berpelukan. Ada jeda dari musim yang tak mampu
kita tahan. Dan kita berganti dari memerhatikan seorang anak dalam gendongan
pundak ayahnya, yang sambil menikmati gula-gula kapas merah muda itu, ke seorang nenek keriput yang menjemur padi,
dan bukit-bukit.
“Menurutmu, apa yang dikatakan bukit-bukit itu
kepada kita?”
Kali itu, giliran aku yang menggodamu, “Beri
aku sebuah tanda, kata sang bukit. Beri aku… sebuah tahi lalat. Sebuah, atau
lebih.”
Kau mencubitku, geli.
Kita saling melirik.
“Kalau pohon-pohon itu?”
“Menurutmu?”
“Mmmm, apa ya, mungkin, mereka bilang, kalian
bisa pergi-pergi, sementara kami, sejak lahir sampai mati berada di sini.”
Kita mengambil waktu untuk memerhatikan
mereka. Daun-daunnya bersorak sepi di dekat perlintasan. Entah untuk apa mereka
ada, jika tak seorang pun mengakui. Setelah itu, seberapa jarak dari hitungan
bulan, kita tak pernah bertemu lagi.
Selain pertanyaanmu yang tiba-tiba melompat: “Agama
apa yang pantas bagi pohon-pohon?”
“Kenapa memangnya?”
“Bukankah berbagai pohon dapat tumbuh di
tempat yang sama dengan damai?”
“Ya. Kenapa?”
“Ini soal perasaan. Kau tidak akan mengerti.”
Jujur aku tak tahu harus berkomentar apa. Kurendahkan
sandaran 15 derajat dan mencoba berpikir pada kursi nomor 11, di sebelahmu ini.
Hujan pun semakin menembaga.
Dan lampu-lampu lalu lintas memberi tahu lagi,
pernikahan kalian memang berbeda agama. Kemudian, berpisah. Zafin dibawa oleh
ayahnya.
Bus berhenti sejenak di kota G.
“Aku mengira, seandainya pohon-pohon beragama,
hewan-hewan berideologi, dan para jin dan tuyul membuat undang-undang dan
mengendalikan kekuasaan, huku, dan juga politik, masihkah kita disebut sebagai
manusia?”
Seorang penumpang naik.
Perempuan, tapi tidak sepertimu. Dia mendekat,
melihat sana-sini kursi yang kosong.
“Boleh aku duduk di samping anda?”
“Ini sudah kubeli.”
“Tapi itu kosong?”
“Tidak bolehkah aku membeli sebuah kursi
kosong di sisiku?”
“Untuk apa?”
“Ini soal perasaan. Kau tidak akan mengerti.”
“Anda pasti bercanda,” dia senyum, seolah tak
percaya. Kutunjukkan tiketnya: atas namamu.
“Masih tak percaya?”
Dan dia pun berlalu, duduk di sebelah
kakek-kakek tua, jauh dari tempatku berada. (2013)
[1] Pertanyaan
(yang sebenarnya tak perlu) buat baris puisi Goenawan Muhammad, Di Kota itu,
kata orang, gerimis telah jadi logam.

makasih bang udah mau menulis ulang buku" itu
BalasHapusjadi gak pusing" nyari buku bacaan yang bagus