DI HADAPAN
RAHASIA
KARYA :ADIMAS
IMMANUEL
DITULIS
ULANG OLEH : RUDI RENDRA
Masihkah kita harus berbantah ketika waktu menipis
dan tak bisa mengiris kesedihan-kesedihan kita lagi?
Kusembunyikan diriku dari sihir matamu ketika nasib
memendarkan warna-warni seperti bianglala, ketika
wangi hutan bersiap menyergap dan menyerapmu
seperti sumur-sumur resapan yang merindukan air
dari tanah-tanah jauh tak tertempuh. Masihkah kita
harus bersengketa ketika hari hampir habis dan doa
hanya menjadi ritus ala kadarnya sementara daun-daun
tak sekali pun menebak ke mana angina akan meniupnya.
Seperti kita manusia, yang amat kecil di hadapan rahasia,
yang tak sepenuhnya berkuasa atas jatuh-bangun kita.
MENANAM RAHASIA
MENANAM RAHASIA
Kauhidupi rahasia layaknya bayangan sendiri
Ia Melekat di usia, getah menanti disadap
Ingatan-ingatan yang ingin diungkap.
Ketika kau memungut buah jatuh,
bayangan kau ikut memungut seluruh
hingga tanah sukar bedakan tubuh dan ruh.
Kau bersembunyi dari banyak penyesalan
dan penyangkalan layaknya menentukan
arah arsiran pada gambar pemandangan
dalam pelajaran sekolah dasar, meski
tahu aku: arah datangnya cahaya itu.
Kurawat rahasia dan menamakannya:
aku petani yang kelak lupa menuainya.
ISLE OF THE DEAD
Bahkan ombak di perairan ini
tak berani mendengar riak sendiri.
Waktu membenamkan detik
di palung paling dasar,
tak terjangkau lampu suar.
Batu nyawa dilempar,
lima kali kecipak air didengar.
Sosok putih itu membuka gerbang
seolah tahu ada yang menantinya:
kehidupan dan kematian sudah
semalam suntuk bergantian jaga.
Sementara kita masih tersaruk-saruk
di gelap rimba, masih keras kepala
menunjukkan siapa paling sia-sia
dalam cinta.
GHAST HEIM
Ke mana gentar ini mengadu jika arwah prajurit berkuda
terus menyemai wangi maut yang serupa bunga kenanga?
"Kematian pun bisa wangi." Aku mengingat ribuan pelayat
menyesali kakunya jenazah itu. Entah budi baiknya belum
lunas atau utang budinya belum tuntas.
Apa yang lebih pantas?
Ke mana gemetar ini menyaru jika prajurit-prajurit alam baka
siap menikam jantung yang tak mengalirkan sebuah puisi?
tak ada yang lebih sia-sia daripada takut merasa ketakutan.
"Apakah penghormatan kepada kehidupan hanya menderas
jika riak kematian sudah beringsut sampai ke urat leher?"
Menyambut kematian juga membutuhkan kuda-kuda,
yakinmu. "Seperti pendekar yang siap berlaga, seperti cinta
yang dewasa, seperti semua hal di dunia yang bisa menerjang dan merajang kita."
Dan ajal tampak ketika kau bermandikan matari:
bayanganmu.
bayanganmu.

0 komentar:
Posting Komentar