
Ima
Oleh: Husna Ilyas
(Ditulis Ulang Oleh: Rudi Rendra dari Majalah Bobo
Edisi 10 Maret 2016)
Namanya Ima. Bunda yang mengajaknya
untuk tinggal di rumah ini. Waktu itu, Bunda dan beberapa teman kantor Bunda
berkunjung membawa sumbangan ke sebuah panti asuhan. Rupanya Bunda terkesan
pada Ima. Akhirnya, bunda meminta izin pada Ibu panti asuhan untuk mengangkat
Ima menjadi anak asuh.
Mulanya Tasya senang. Karena ia akan
punya teman bermain selain Bi Ijah, di saat Bunda dan Ayah pergi keluar kota.
Apalagi Ima lebih muda dari Tasya. Tasya jadi seperti punya adik. Kalau bermain
boneka dan bermain yang lain, Tsya tidak sendirian lagi.
Akan tetapi, akhir-akhir ini Tasya
sebal pada Ima. Terutama kalau Bunda sudah mulai memuji-muji Ima.
“Ima pintar, ya! Puji Bunda waktu Ima
mengantarkan the dan kue untuk tamu Ayah tanpa disuruh lebih dahulu.
Ima tersenyum. “Udah biasa, Bu, waktu
di panti,” kata Ima.
Waktu itu Tasya belum cemburu. Aah,
hanya mengantar air ke ruang tamu saja. Lagipula, yang membuat teh manis itu
juga bi Ijah, batin Tasya. Namun, sewaktu Bunda memuji Ima di depan Ayah, baru
Tasya cemburu. Itu terjadi waktu Ayah kehilangan kacamatanya.
“Ayah lupa menaruh kaca mata,” ucap
Ayah waktu itu, sambil mencari-cari kacamata di rak buku. “Apa Tasya melihat?”
Tasya meenggeleng tanpa menoleh ke
Ayah. Saat itu, mata Tasya pada kartun
Hello Kitty yang sedang ditontonnya.
Ayah berteriak memanggil Bi Ijah. Ima
muncul dari dapur dengan membawa segelas kopi untuk Ayah. “Bi Ijah sedang
mencuci,” sahut Ima. “Ada yang bisa Ima bantu, Ayah?” lanjutnya.
Ayah menggeleng. “Tidak perlu, Ima.
Ayah cuma mau bertanya, apa Bi Ijah merapikan kacamata Ayah.”
Tanpa berkata apa-apa, Ima ikut
mencari. Ketika Ima menemukannya, Bunda langsung memuji. “Wah, Ima hebat, deh.
Cepat menemukan acamata Ayah. Biasanya, bisa setengah hari mencari kacamata
Ayah.”
Hu-uh…, Tasya sebal mendengarnya. Ima
lagi, Ima lagi yang dipuji Bunda.
***
“Apa Ima akan selamanya tinggal
bersama kita, Bunda? Tanya Tasya agak takut pada Bundanya. Kekesalan Tasya pada
Ima sudah tertahankan. Di sekolah, sekarang Ima akan lebih terkenal dari Tasya.
Hari pertama sekolah saja, Imasudah memperlihatkan kelihaiannya memanjat pohon.
Ia mengambilkan bola teman yang menyangkut di pohon saat pelajaran olahraga.
“Kenapa Tasya bertanya begitu?” tanya
Bunda sambil mengelus pipi Tasya yang sedikit bulat.
“Berantem ya, sama Ima? Duh, Tasya,
kamu kan lebih besar. Seharusnya sebagai kakak kamu bisa mengalah…”
“Tasya tidak suka Ima jadi adik
Tasya. Bunda dan Ayah sekarang lebih sayang pada Ima. Bunda dan AYAH JUGA
SERING MEMUJI Ima.. iama yang bisa ini, Ima yang bisa itu. tasya tidak bisa
apa-apa!” Tasya berlari ke kamarnya. Ia sempat kaget melihat Ima ternyata
sedang berdiri di sana sambil memegang sebuah buku. Huh, pasti sebentar lagi
terdengar pujian Bunda untuk Ima, karena di hari minggu pun, Ima tetap rajin
belajar.
Tasya sempat melirik buku yang
dipegang Ima. Tasya mengenal buku lama miliknya. Tsya sempat kaget, karena itu
buku pelajaran membacanya dulu. Sewaktu hendak menutup pintu kamar, ternyata
Ima mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Sana, keluar!” kata Tasya ketus.
Ima menganggukkan kepalanya. “Ima
minta maaf kalau sudah membuat kak Tasya kesal. Ima akan kembali ke panti. Tapi…
kak Tasya jangan salah mengerti. Ima bisa melakukan pekerjaan Bi Ijah, karena
Ima biasa melakukannya di panti asuhan. Termasuk memanjat pohon. Bukan karena
Ima pintar…”
Ima meletakkan bukunya di atas meja
belajar Tasya. Lalu berjalan kea rah pintu.” Yang hebat dan pintar itu Kak
Tasya. Lihat saja piala-piala di kamar Kakak ini…” Mata Tasya melihat deretan
piala di atas rak buku Tasya.
Sebelum menutup pintu, Ima berkata
lagi, “Di panti, Ima belum sempat sekolah. Hanya diajarkan membaca dan
berhitung. Itu pun masih mengeja. Belum lancar benar.”
Pintu tertutup. Namun terbuka lagi. Bunda
masuk dan menghampiri Tasya yang masih berdiri bengong setelah mendengar ucapan
Ima tadi.
“Tasya jahat sama Ima, Bunda,” Tasya
memeluk Bunda.
Bunda menggeleng. “Tasya anak Bunda
yang paling baik, “Bunda membelai rambut Tasya. “Mau, kan, minta maaf pada Ima?
Bilang agar dia tetap tiggal di sini.”
Tasya mengangguk. Sebelum Tasya
keluar kamar, Bunda memanggilnya lagi. “Eh, jangan lupa bawa buku ini. Kamu harus
mengajari Ima sampai lancar membaca…”
Tasya tersenyum. Ia lalu mencari Ima.
Ternyata Ima sedang duduk sambil menangis.
“Ima…” panggil Tasya lembut.
“Kak Tasya au menyuruh Ima pergi, ya?
Besok, Ima akan…”
Tasya memeluk Ima. “Maafkan, Kak
Tasya, ya. Imam au, kan tetap jadi adik Kak Tasya?”
Ima tersenyum lalu menangguk, sambil
memeluk erat Tasya.
0 komentar:
Posting Komentar