Rabu, 24 Agustus 2016

Ima

0



 Hasil gambar
Ima
Oleh: Husna Ilyas
(Ditulis Ulang Oleh: Rudi Rendra dari Majalah Bobo Edisi 10 Maret 2016)

Namanya Ima. Bunda yang mengajaknya untuk tinggal di rumah ini. Waktu itu, Bunda dan beberapa teman kantor Bunda berkunjung membawa sumbangan ke sebuah panti asuhan. Rupanya Bunda terkesan pada Ima. Akhirnya, bunda meminta izin pada Ibu panti asuhan untuk mengangkat Ima menjadi anak asuh.
Mulanya Tasya senang. Karena ia akan punya teman bermain selain Bi Ijah, di saat Bunda dan Ayah pergi keluar kota. Apalagi Ima lebih muda dari Tasya. Tasya jadi seperti punya adik. Kalau bermain boneka dan bermain yang lain, Tsya tidak sendirian lagi.
Akan tetapi, akhir-akhir ini Tasya sebal pada Ima. Terutama kalau Bunda sudah mulai memuji-muji Ima.
“Ima pintar, ya! Puji Bunda waktu Ima mengantarkan the dan kue untuk tamu Ayah tanpa disuruh lebih dahulu.
Ima tersenyum. “Udah biasa, Bu, waktu di panti,” kata Ima.
Waktu itu Tasya belum cemburu. Aah, hanya mengantar air ke ruang tamu saja. Lagipula, yang membuat teh manis itu juga bi Ijah, batin Tasya. Namun, sewaktu Bunda memuji Ima di depan Ayah, baru Tasya cemburu. Itu terjadi waktu Ayah kehilangan kacamatanya.
“Ayah lupa menaruh kaca mata,” ucap Ayah waktu itu, sambil mencari-cari kacamata di rak buku. “Apa Tasya melihat?”
Tasya meenggeleng tanpa menoleh ke Ayah.  Saat itu, mata Tasya pada kartun Hello Kitty yang sedang ditontonnya.
Ayah berteriak memanggil Bi Ijah. Ima muncul dari dapur dengan membawa segelas kopi untuk Ayah. “Bi Ijah sedang mencuci,” sahut Ima. “Ada yang bisa Ima bantu, Ayah?” lanjutnya.
Ayah menggeleng. “Tidak perlu, Ima. Ayah cuma mau bertanya, apa Bi Ijah merapikan kacamata Ayah.”
Tanpa berkata apa-apa, Ima ikut mencari. Ketika Ima menemukannya, Bunda langsung memuji. “Wah, Ima hebat, deh. Cepat menemukan acamata Ayah. Biasanya, bisa setengah hari mencari kacamata Ayah.”
Hu-uh…, Tasya sebal mendengarnya. Ima lagi, Ima lagi yang dipuji Bunda.
***
“Apa Ima akan selamanya tinggal bersama kita, Bunda? Tanya Tasya agak takut pada Bundanya. Kekesalan Tasya pada Ima sudah tertahankan. Di sekolah, sekarang Ima akan lebih terkenal dari Tasya. Hari pertama sekolah saja, Imasudah memperlihatkan kelihaiannya memanjat pohon. Ia mengambilkan bola teman yang menyangkut di pohon saat pelajaran olahraga.
“Kenapa Tasya bertanya begitu?” tanya Bunda sambil mengelus pipi Tasya yang sedikit bulat.
“Berantem ya, sama Ima? Duh, Tasya, kamu kan lebih besar. Seharusnya sebagai kakak kamu bisa mengalah…”
“Tasya tidak suka Ima jadi adik Tasya. Bunda dan Ayah sekarang lebih sayang pada Ima. Bunda dan AYAH JUGA SERING MEMUJI Ima.. iama yang bisa ini, Ima yang bisa itu. tasya tidak bisa apa-apa!” Tasya berlari ke kamarnya. Ia sempat kaget melihat Ima ternyata sedang berdiri di sana sambil memegang sebuah buku. Huh, pasti sebentar lagi terdengar pujian Bunda untuk Ima, karena di hari minggu pun, Ima tetap rajin belajar.
Tasya sempat melirik buku yang dipegang Ima. Tasya mengenal buku lama miliknya. Tsya sempat kaget, karena itu buku pelajaran membacanya dulu. Sewaktu hendak menutup pintu kamar, ternyata Ima mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Sana, keluar!” kata Tasya ketus.
Ima menganggukkan kepalanya. “Ima minta maaf kalau sudah membuat kak Tasya kesal. Ima akan kembali ke panti. Tapi… kak Tasya jangan salah mengerti. Ima bisa melakukan pekerjaan Bi Ijah, karena Ima biasa melakukannya di panti asuhan. Termasuk memanjat pohon. Bukan karena Ima pintar…”
Ima meletakkan bukunya di atas meja belajar Tasya. Lalu berjalan kea rah pintu.” Yang hebat dan pintar itu Kak Tasya. Lihat saja piala-piala di kamar Kakak ini…” Mata Tasya melihat deretan piala di atas rak buku Tasya.
Sebelum menutup pintu, Ima berkata lagi, “Di panti, Ima belum sempat sekolah. Hanya diajarkan membaca dan berhitung. Itu pun masih mengeja. Belum lancar benar.”
Pintu tertutup. Namun terbuka lagi. Bunda masuk dan menghampiri Tasya yang masih berdiri bengong setelah mendengar ucapan Ima tadi.
“Tasya jahat sama Ima, Bunda,” Tasya memeluk Bunda.
Bunda menggeleng. “Tasya anak Bunda yang paling baik, “Bunda membelai rambut Tasya. “Mau, kan, minta maaf pada Ima? Bilang agar dia tetap tiggal di sini.”
Tasya mengangguk. Sebelum Tasya keluar kamar, Bunda memanggilnya lagi. “Eh, jangan lupa bawa buku ini. Kamu harus mengajari Ima sampai lancar membaca…”
Tasya tersenyum. Ia lalu mencari Ima. Ternyata Ima sedang duduk sambil menangis.
“Ima…” panggil Tasya lembut.
“Kak Tasya au menyuruh Ima pergi, ya? Besok, Ima akan…”
Tasya memeluk Ima. “Maafkan, Kak Tasya, ya. Imam au, kan tetap jadi adik Kak Tasya?”
Ima tersenyum lalu menangguk, sambil memeluk erat Tasya.

0 komentar:

Posting Komentar