Putri Hasna & Hutan Terlarang
Oleh: Watiek Ideo
Ditulis Ulang Oleh: Rudi Rendra
Sebagai Bahan Ajak Ekskul Menulis (Pencil)
Putri Hasna
dikenal sebagai putri yang pemberani. Dia suka menjelajah laut dan berpetualang
berhari-hari. terkadang, orangtuanya mencemaskan Putri Hasna.
“Seharusnya,
kau tinggal di istana dan belajar hal-hal selayaknya seorang putri,” Kata
Ibunda Ratu.
Namun,
Putri Hasna TERTAWA. “Ibu, aku tak suka terlalu lama di istana. Aku ingin
mengetahui banyak hal di luar sana,” Katanya.
Ibunda Ratu
pun tak kuasa menahan putrinya.
Suatu hari,
Putri Hasna hendak pergi ke hutan terlarang. Hutan itu memang dikenal sebagai
hutan paling menakutkan. Konon, di sana tinggal makhluk menyeramkan.
“Aku
ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Semoga Allah melindungiku,” Katanya.
“Hiyah!
Hiyah!” Putri Hasna pun memacu kudanya seorang diri tanpa pengawal. Sesampainya
di hutan, suasana sungguh senyap. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang
menabah seram hutan itu. kuda Putri Hasna berjalan perlahan menerobos ke tengah
hutan.
Sebuah gua
tampak di hadapan Putri Hasna. Ia pun turun dari Kudanya dan berjalan mengendap
untuk melihat-lihat.
“Hmmm, sepi
sekali.”
Namun tak
disangka, tiba-tiba saja bayangan besar muncul di dinding gua. “ Hooo! Ada
putri cantik ke sini. Hahaha! Kau tak takut kepadaku?” hardik bayangan itu
kasar.
Putri Hasna
terperanjat. Namun dia berusaha tetap tenang.
“Tentu
saja tidak! Hanya kepada Allah aku berlindung dari segala bahaya!” Kata Putri
Hasna lantang.
“Keluarlah!
Tunjukkan dirimu!”
Sejenak suasana
menjadi hening. Hingga tiba-tiba…
Sosok kecil
keluar dari gua. Putri Hasna berusaha menyembunyikan rasa kaget. Dia tersenyum
menyapa sosok tua yang ternyata amat mungil.
“Kau
pasti akan menertawakanku!” kata sang kakek gusar.
“Tidak
senang bisa berjumpa denganmu, kek!” sapa Putri Hasna ramah.
“Kau…
uhmm… kau tak tanya tentang siapa aku sebenarnya?” tanyanya.
“Ya, aku
penasaran sekali. Penduduk bercerita kalau hutan ini dijaga makhluk menyeramkan.
Apakah yang mereka maksud adalah dirimu, Kek?”
“Hihihi,
mereka pasti ketakutan ya?” tayanya terkikik.
“Sebenarnya,
yang mereka lihat hanyalah bayanganku. Lihatlah ini cukup besar bukan? Dan kau
tahu, suaraku memang menggelegar saat berada di dalam gua. Tapi aslinya, aku
bukanlah makhluk seram seperti yang mereka ceritakan. Aku hanyalah manusia
biasa seperti kalian.”
“Lalu,
kenapa kau menakuti semua yang berkunjung ke hutan ini?” tanya Putri Hasna.
“Hummm,
orang-orang ingin sekali merusak hutan ini. Mereka ingin mengambil kayu-kayu
besar untuk dijual. Aku tak menyukai mereka.”
“Kayu-kayu
ini berusia ratusan tahun. Dan mereka hal berharga yang kita miliki di negeri
ini. Itulah mengapa aku sering membuat suara seram jika ada yang mau berniat
buruk.
Tapi akhirnya,
ini menjadi kisah paling menyeramkan bagi siapa pun.”
Putri
Hasna jadi mengerti sekarang. “Apakah kau kesepian? Dan siapa namamu, Kek?”
“Panggil
saja aku Kakek Khalif. Ya, aku sangat kesepian kadang-kadang. Maukah kau
menjadi temanku?” tanyanya penuh harap. Mata merahnya membuat lucu.
“Tentu
saja!” sambut Putri Hasna. Kakek Khalif amat gembira.
“Hemmm,
aku ada ide. Mulai saat ini, kau tak perlu bersembunyi dan membuat suara seram
lagi. Kurasa satu-satunya cara menyelamatkan hutan ini adalah membuat peraturan
agar taka da yang melakukan penebangan.”
Hari itu
juga, Putri Hasna mengajak Kakek Khalif
ke istana dan memperkenalkannya kepada raja. Mereka pun menyusun undang-undang
pelestarian hutan bersama.
Sejak saat
itu, hutan terlarang tak lagi menyeramkan. Terkadang, anak-anak berkemah di
sana saat musim panas tiba. Raja dan Ratu amat bangga kepad Putri Hasna. Keberaniannya
membuat misteri terpecahkan.
0 komentar:
Posting Komentar