Selasa, 23 Agustus 2016

Anak Jaranan

0




Anak Jaranan
Oleh: Gunawan Tri Atmodjo
Diketik Kembali Oleh : Rudi Rendra

Sebagai seorang penulis naskah teater, Trijoko  tak puas dengan sinetron Anak Jalanan. Sinetron itu dianggap terlalu mengada-ada, tidak membumi, Cuma pamer tampang, kekayaan, dan kekerasan, serta yang yang terparah, sangat miskin pesan moral. Saat menonton episode 1345 dari sinetron itu, ide pencerahan mendatanginya. Seperti ilham, mungkin layak pula disebut hidayah, ide itu muncul begitu saja, lengkap dengan susunan kerangka ceritanya. Bahkan saking terang-benderangnya ide tersebut, Trijoko tanpa keraguan sedikit pun di dalamnya sudah menemukan judul yang paling pas baginya yaitu Anak Jaranan. Secara garis besar, paket komplit ide di kepalanya itu akan berkisah mengenai kehidupan sekumpulan pemuda begajulan di masa Kerajaan Majapahit yang keranjingan jaranan (berkuda) dan menggelar pacuan kuda liar.

Trijoko mengendapkan terlebih dahulu ide itu hingga mencapai tahap kematangan. Dari teksturnya, kemungkinan ide itu bisa dieksekusnya dalam waktu dekat. Trijoko juga sudah membayangkan bentuk pementasan dan kelompk teater yang sekiranya tepat melakonkannya. Ide ini akan diejewantahkannya dalam bentuk kolosal yang berarti dalam pementasannya melibatkan banyak pemain, kru, dan ornament pentas teater yang sangat kompleks. Tentu Trijoko sudah membuang jauh angan pengeksekusian ide ini dalam bentuk sekenario sinetron karena haram bagi Trijoko menulis sekenario sinetron. Trijoko masih konsisten beranggapan bahwa sinetron itu murahan, picisan, atau apalah yang menunjukkan harga diri seni pertunjukan yang rendah. Bagi Trijoko, sinetron adalah produk kapitalis dan instan yang menyedihkan. Sebuah produk budaya massal yang jauh sekali dari nilai-nilai sastrawi da tentu saja tak bisa dibandingkan dengan keagungan seni teater.
Jika pun pada akhirnya dia mengikuti sintron Anak Jalanan hingga episode 1345, itu semua tak lebih karena terpaksa belaka. Sundari, istri tersayangnya, keranjingan nonton sintron itu. sementara televise di rumahnya  Cuma satu. Ia tak punya kegiatan lain selain menemani Sundari nonton. Sebenarnya ia ingin sekali keluar rumahh tetapi Sundari telah menetapkan tata tertib rumah tangga yang salah satu butirnya, tepatnya di nomor 5, berisi larangan keluar rumah di atas jam 7 malam tanpa pengawasan melekat dari Sundari. Trijoko harus tunduk pada tata tertib itu karena jika tidak, maka Sundari akan meradang dan hingga kini ia masih gentar menghadapi kemarahan Sundari.
Tampak kegiatan selain menemani nonton sinetron pun bakal sia-sia. Trijoko tak akan bisa konsentrasi menulis karena Sundari selalu menyalurkan suara televise dengan speaker aktif berdaya 14000 pmpo. Suara yang keluar dari speaker itu sungguh menggelegar. Konsentrasi sekhusyuk apa pun dijamin bisa buyar seketika. Berpura-pura menulis pun bakalan sia-sia karena biasanya pula, selain minta ditemani, Sundari juga minta Trijoko memijit badannya atau menggaruki punggungnya.
Pelayanan suami semacam ini telah mereka sepakati dan sudah menjadi kewajaran. Maklum, setiap harinya Sundarilah yang bekerja. Sementara, sebagai seniman sejati, Trijoko pantang mencari nafkah di luar bidang kesenian. Maka seperti ketetapan celaka yang tak mungkin dielakkan, ketika proyek berkesenian Trijoko sepi seperti akhir-akhir ini dan biasanya bertahan hingga sepanjang tahun, Sundarilah yang menjadi kepala keluarga di rumah tangga mereka. Kedudukan Sundari sebagai kepala keluarga ini tak sebatas bermakna kiasan tapi juga harfiah. Sebuah kenyataan pahit yang harus Trijoko terima dengan lapang dada dan mungkin hanya anak yang akan mengubah ketimpangan yang dialaminya itu. trijoko terus mengusahakan keberadaan anai itu meski sejauh empat tahun pernikahan mereka ini Sundari belum hamil juga. Sejauh ini Trijoko hanya mendapat setengah nikmat dari persenggamaan dan separuh perih akibat cakaran kuku dan gigitan Sundari yang senatiasa menjelma macam kumbang untuk urusan ranjang.
Trijoko adalah penulis nasakh teater autodidak. Oleh rekan-rekan sekomunitasnya, ia dianggap sangat berbakat. Dialog yang terbangun dalam naskahnya senantiasa hidup dan menampakkan hal-hal unik dari tokoh-tokohnya. Kemunculannya dikomunitas teater ditandai dengan kemenangannya seabgai juara harapan 3 dalam sebuah lomba penulisan naskah teater yang digelar dewan kesenian kota itu. capaian ini diangap sebagai sebuah capaian besar, baik olehnya mapun para dramawan senior kota itu meski jumlah eseluruhan naskah masuk yang diterima panitia lomba hanya 9 naskah. Sebagai penghargaan, semua naskah yang menang ataupun masuk nominasi bakal dipentaskan. Dewan kesenian kota itu, yang sebelumnya mendapat sorotan tajam karena dianggap menganaktirikan teater dan lebih memuliakan sastra dan cabang seni lain, seakan menemukan jalan terang dengan menggelar rangkaian pementasan itu. pementasan teater selama seminggu yang dinamai pekan teater itu sanggup memuaskan banyak pihak, terutama para penyinyir yang sebenarnya berasal dari para dramawan yang terlalu sepi proyek.

Naskah teater Trijoko yang berjudul Wajah yang Terkoyak mendapat giliran pentas di hari keempat, tepatnya hari Kamis Pahing. Naskah yang bercerita tentang kehidupan seorang pemuda yang wajahnya terbeset kawat berduri ketika maling mangga tetangganya itu ternyata menyedot banyak animo masyarakat. Naskah realis yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari itu dipentaskan dengan hampir sempurna oleh Kelompok Teater Tong Setan, yang sesuai namanya kebanyakan aktornya adalah mantan atlet tong setan, pertunjukan atraksi kendaraan bermotor di pasa malam. Tak ayal lagi pementasan naskah Trijoko menjadi bintang pada pekan teater itu dan dengan itu pula nama Trijoko lantas melambung menjadi penulis naskah teater terkemuka di kota itu.
Gelar mentereng itu pual membuat Sundari kesengsem kepadanya. Mereka bertemu kali pertama saat pementasan naskah kedua Trijoko yang berjudul Berahi Terlarang.  Naskah yang agak eksotis itu kembali dilakonkan dengan prima kali ini leih Sanggar Seni Tari SARI Rapet yang anggotanya kebanyakan berasal dari pensiunan PSK di lokalisasi Madu Manis. Kisah tentang gadis bunga desa yang tergila-gila pada pengamen kurang was dalam teater itu ternyata menuliar kepada Sundari. Bedanya, Sundari tergila-gila kepada penulis naskahnya yakni Trijoko, pemuda nyentrik yang saat itu mengaku memiliki tiga dekik (lesung pipit) dan punya kebiasaan unik bersin tiga kali berturut-turut.
Pada mulanya Trijoko memang jual mahal tapi lama-kelamaan kemurahan hati Sundari, yang hobi mentraktirnya, melumerkan keteguhan hatinya. Semasa pacaran, Sundari senantiasan menuruti permintaan Trijoko, mulai dari jaket kulit kerang hingga kipas angina. Urusan rokok dan makan bareng un Sundari yang menaggungnya. Trijoko selalu berdalih bahwa akan mengembalikan semua itu dan mencatatnya sebagai pinjaman, kelak ketika ada proyek lagi. Dalih itu ternyata menjelma dalil dan terus berlaku hingga mereka menikah. Segala yang dianggap pinjaman itu tak pernah dikembalikan.
Tapi apa pun itu, hati Sundari telah tergadai dalam diri Trijoko. Mereka pun sepakat menikah. Resepsinya digelar besar-besaran oleh keluarga Sundari dan diunduh secara kecil-kecilan oleh  keluarga Trijoko. Semua uang sumbangan dihibahkan bagi kesejahteraan kedua mempelai. Sehabis resepsi, Sundari menanyakan perihal dekik ketiga Trijoko selain pipi kiri dan kanannya. Dengan enteng Trijoko membuka mulutnya dan menunjuk gusi kiri bawahnya. Dekik ketiga Trijoko berada di gusi itu. dekik itu tak lain adalah bekas sariawan akut. Pada momen itu pula Sundari merasa resmi dibohongi dan memaki dalam hati.  Dengan wajah masam, ia berkata tajam kepada Trijoko bahwa dia juga punya dekik. Ketika Trijoko ingin mengetahuinya, Sundari membuka pakaiannya dan menunjukkan pusarnya.
Menginjak tahun kedua pernikahan dan kehidupan mereka stabil begitu-begitu saja sampailah Sundari pada kesimpulan bahwa seniman itu setengah nikmat dipacari tapi tak enak sama sekali saat dinikahi. Tiadanya perubahan apa pun dalam kehidupan rumah tangga mereka membuat perangai asli Sundari keluar. Sundari menjelma diktaktor sejati dan rumah tangga mereka menjadi tirani. Sundari dengan semena-mena menetapkan tata tertib rumah tangga mesti Trijoko patuhi. Trijoko sebenarnya sempat bernotak tapi perlawanannya berhasil dipatahkan dengan mudah oleh Sundari. Maklum, Sundari adalah pemegang sabuk hitam karate dan juara bertahan kompetisi karakte tiga kaliberturut-turut di tingkat kabupaten. Bahkan, Sundari sempat ikut PON, tapi sayang langsung didiskualifikasi karena menyerang wasit yang memimpin pertandingannya karena dianggapnya tak adil. Karier professional Sundari sebagai karakteka langsung tamat akibat insiden patah tulang wasit tersebut.
Kemampuan beladiri inilah yang membuat Sundari dipercaya sebagai kepala satpam sebuah supermarket besar di kotanya. Di tempat kerjanya itu Sundari membawahi 15 lelaki kekar dan bertampang sangar. Karena kuasanya ini pula, Sundari selalu bisa memilih jadwal kerja pagi dan sorenya ia bisa menonton sinetron Anak Jalanan kesukaannya itu.
Jadi kebebasan Trijoko sebenarnya terjadi saat Sundari sedang bekerja. Trijoko yang mengaku seniman dan memuja kebebasan sebenarnya adalah tahanan rumah tangga. Dan karena taka da seniman, apalagi yang bisa mangkal di taman budaya, yang keluyuran pagi atau siang maka jadilah Trijoko makhluk kesepian. Ia sering mengutuk kebiasaan tak disiplin rekan-rekan senimannya itu. apakah seorang seniman itu memang harus begadang dan bangun kesiangan? Jika ia, berarti Trijoko bukan seniman sejenis itu.
Karena tak memiliki teman, maka ponsellah teman terbaik Trijoko. Dalam urusan ini Sundari agak prihatin. Ia membelikan Trijoko ponsel cukup canggih dan menganggarkan pulsa yang mencukupi pula. Ketika taka da ide untuk ditulis, sepanjang hari Trijoko sibuk dengan ponselnya. Fitur paling disukainya tentu saja facebook karena di sana Trijoko bisa berteman dengan banyak orang, baik yang dikaguminya, mengaguminya, maupun orang yang tak dikenalnya sama sekali. Selain berjejaring social, ia juga dapat memantau perkembangan dunia, baik lokal, nasional, maupun internasional dari sana. Di facebook Trijoko tercata memilki 3241 teman, tapi teman sebanyak itu seperti tak berimbas pada popularitasnya. Postingannya senantiasa sepi seperti warung sate jamu cabang baru. Trijoko sungguh heran dengan kenyataan ini. Jangankan ada yang berkomentar, teman yang setor jempl pun sangat jarang.
Ia kagum dengan akun penyair sekotanya. Pstingan kawannya yang memakai nama akun Dion Pancasona, sedang nama aslinya Sudiono dan biasa dipanggil Dudung itu senantiasa ramai. Jumlah komentar pada postingannya stabil puluhan bahkan hingga ratusan sedangkan jumlah aku penyetor jempolnya ajeg di atas 400. Padahal, menurutnya, postingan kawannya itu biasa-biasa saja dan kelasnya masih jauh dari postingannya yang senantiasa sepi itu. bahkan ada satu momen yang membuat Trijoko nyaris kehilangan akal sehat. Suatu ketika Dian Pancasona ini hanya posting tanda baca titik. Postingan yang hampir tak kelihatan itu ternyata menyedot lebih banyak komentar daripada biasanya. Isi komentar terpecah menjadi tiga golongan yaitu yang menanyakan kabar, kekhawatiran bahwa telah terjadi sesuatu dengannya, dan tafsiran bahwa titik itu adalah symbol postingan terakhir di facebooknya. Golongan ketiga ini menjadi golongan komentator mayoritas dalam postingan itu yang menjadikan para akun penggemarnya sedih berjemaah. Tak ada satu komentar pun dalam postingan itu yang ditanggapi Dion. Ketika pada akhirnya Dion Pancasona merilis postingan baru yang berisi klarifikasi bahwa postingan titik tadi hanya karena ponselnya terpencet maka lega pulalah para pengikutnya itu secara berjamaah.
Trijoko benar-benar tak habis piker bagaimana mungkin akun sesombong Dion Pncasona yang sangat jarang menganggapi komentar dari penggemarnya itu bisa disukai banyak akun dan memilki massa akun yang loyal. Ketika ada kesempatan bertemu langsung dengannya, Trijoko tanpa malu-malu menanyakan resep menjadi selebritas facebook.
Saran yang diberikan Dion Pancasona sungguh tak terduga. Ia menyarankan Trijoko membuat akun palsu sebanyak mungkin untuk melambungkan namanya. Tugas akun-akun itu selain berkomentar dan setor jempol juga membagikan postingannya. Akun-akun itu pulalah yang menadi penggemar garis kerasnya Trijoko dan akan berkonfrontasi dengan akun lain yang coba mengganggu stabilitas akun Trijoko. Dahulu Dion juga melakukan hal itu. ia membuat akun palsu sebanyak 12 dengan hata kunci yang sama agar mudah mengingatnya, dan kini ia tinggal memetik buah manis dari jerih payahnya.
Saran itu dijalankan Trijoko. Untuk sementara ia membuat dua akun palsu yakni Fredi Surga yang Tak Dirindukan, yang nama akunnya merupakan kombinasi dari nama penulis favoritnya yakni Fredi S dan judul film faforitnya, serta satu lagi akun dinamainya Gracia Senantiasa Bermuhasabah, sebuah nama yang mencerminkan toleransi dan religiusitas yang tinggi. Karena akun palsu itu dihidupi  Trijoko sepenuh hati dan kelihatannya rukun bersama akun asli Trijoko yang bernama Trijoko Mbaurekso. Ketika postingan Trijoko sepi maka kedua akun palsu itulah yang berdinas meramaikannya. Meski sadar telah melakukan kepalsuan dan berlaku seperti orang gila yang bicara sendiri namun Trijoko juga memetik manfaat dari prilaku ini. Ketika ia sedang berdialog dengan kedua akun palsunya itu, berarti ia juga mengasah kemampuanya menciptakan dialog dalam naskah drama. Trijoko dituntut membuat komentar yang alamiah dan tidak mencurigakan. Trijoko jadi paham akan seni merendah ke selokan untuk menyanjung diri sendiri setinggi langit. Ini kini sangant menikmati kehidupan berfacebooknya dan terpikir untuk membikin tiga atau empat akun palsu lagi agar facebooknya jadi lebih seru.
Kepalsuan yang menyenangkan itu selau berakhir ketika Sundari pulang. Sundari telah mengeluarkan larangan keras kepada Trijoko untuk tidak menyentuh ponsel saat bersamanya, kecuali ada panggilan atau pesan penting. Larangan itu telah diabadikan dalam tata tertib rumah tangga tepatnya di nomor 13 tepat di bawah larangan memakai sempak Sundari. Dan seperti biasanya, Trijoko dengan ketaatan tinggi mematuhinya.
Di pagi yang cerah setelah mengantar Sundari ke tempat kerjanya, Trijoko mulai mengeksekusi idenya menjadi naskah teater Anak Jaranan.  Karena ragangan cerita sudah demikian gambling di benaknya maa penulisan naskah itu mengalir dengan lancarnya. Benar-benar seperti berkah, semua tertulis dengan mudah hingga Trijoko lupa waktu.
Saking asyiknya, Trijoko tak makan sama sekali dan hanya minum lima gelas  jus tapai ketan ketika mengetikkan naskah itu. tak terasa hampir delapan jam ia menulis di laptop ketika alarm ponselnya berbunyi, peringatan untuk menjemput Sundari. Trijoko pun bergegas menyimpan file tanpa mematikan laptopnya karena masih ada sedikit bagian akhir yang mesti dirampungkannya. Prioritas utamanya tentu menjemput Sundari kareka jika ia terlambat itu berarti marabahaya yang lebih besar telah menantinya. Sundari akan menghadiahinya bogem mentah ringan di pahanya sebagai hukuman ketidakdisiplinan.
Untunglah Trijoko tidak terlambat. Ia tiba di supermarket sebelum Sundari menunggunya. Tetapi, saat itu rupanya suasana hati Sundari sedang tidak baik. Kerunyaman dan amarah tampak tersembunyi di wajahnya yang terlihat lebih gelap. Trijoko tahu pasti akan hal itu dan sepanjang perjalanan ia memilih diam saja, tak berani memulai percakapan. Trijoko takut bila amarah Sundari meledak kepadanya. Trijoko hanya mampu menduga-duga. Mungkin kecolongan lagi seperti penyebab amrahnya tempo hari. yang jelas kesuraman wajah Sundari itu bukan disebabkan oleh menstruasi.
Sesampainya di rumah Sundari langsung mandi. Trijoko melanjutkan penulisan naskahnya. Saking asyiknya, ia tak menadari kalau Sundari sudah berdiri di belakangnya dan bertanya dengan nada dingin perihal tulisan Trijoko. Dengan riang dan bangga karena seolah mendapat apresiasi dan kepedulian, Trijoko menjelaskan panjang lebar tentang naskahnya itu. akan tetapi, reaksi Sundari benar-benar di luar perkiraan Trijoko. Setelah mendengar paparan Trijoko, kemarahan Sundari seakan memuncak dan pecah.
“Jadi kamu menulis naskah itu untuk mengolok-olok sinetron favoritku.”
“Bukan begitu, sayang. Ini hanya versi teater dari sinetron itu.”
“Tapi dari ceritamu tadi jelas sekali bahwa kamu berniat menjadikan sinetron Anak Jalanan sebagai olok-olok. Aku tak terima jika olok-olok itu dipentaskan dan ditonton banyak orang. Kamu kira aku bodoh apa? Hapus naskh itu!”
“Tapi aku sudah susash payah menuliskannya sejak tadi pagi. Tolong kali ini saja hargai jerih payahku, Sayang.”
“Aku tak akan menghargai segala jenis olok-olok apalagi terhadap sinetron kesayanganku. Hapus sekarang!”
“Tolong Sayang, ini bakal menjadi karya terbaik sepanjang karierku.”
“Hapus atau kau akan menaggung akibatnya.”
Sundari merempas kepalan tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya sementara  gemetar tubuh Trijoko tak bisa disembunyikan lagi.  Akhirnya dengan tangan bergetar Trijoko menghapus naskah Anak Jaranan  yang ditulisnya sejak tadi pagi. Sundari menyaksikan langsung proses penghapusan itu dengan wajah semerah saga. Bahkan, Sundari memeriksa sendiri recycle bin laptop guna memastikan bawha naskah itu sudah terhapus dengan tuntas.
Ketika Sundari mulai menonton lagi sinetron Anak Jalanan  episode 1346 gemetar di tubuh Trijoko belum juga hilang. Trijoko jadi merasa begitu rindur dengan kedua akun palsunya. Andai saja Fredy Surga yan Tak Dirindukan dan Gracia Senantiasa Bermuhasabah benar-benar ada, mungkin mereka berdua bisa membantunya mengudeta kediktatoran Sundari. Ya, andai saja.

Solo, 2016


0 komentar:

Posting Komentar