Anak Jaranan
Oleh: Gunawan Tri Atmodjo
Diketik Kembali Oleh : Rudi Rendra
Sebagai seorang penulis naskah teater, Trijoko tak puas dengan sinetron Anak Jalanan. Sinetron
itu dianggap terlalu mengada-ada, tidak membumi, Cuma pamer tampang, kekayaan,
dan kekerasan, serta yang yang terparah, sangat miskin pesan moral. Saat
menonton episode 1345 dari sinetron itu, ide pencerahan mendatanginya. Seperti
ilham, mungkin layak pula disebut hidayah, ide itu muncul begitu saja, lengkap
dengan susunan kerangka ceritanya. Bahkan saking terang-benderangnya ide
tersebut, Trijoko tanpa keraguan sedikit pun di dalamnya sudah menemukan judul
yang paling pas baginya yaitu Anak Jaranan. Secara garis besar, paket
komplit ide di kepalanya itu akan berkisah mengenai kehidupan sekumpulan pemuda
begajulan di masa Kerajaan Majapahit yang keranjingan jaranan (berkuda)
dan menggelar pacuan kuda liar.
Trijoko mengendapkan terlebih dahulu ide itu hingga mencapai tahap
kematangan. Dari teksturnya, kemungkinan ide itu bisa dieksekusnya dalam waktu
dekat. Trijoko juga sudah membayangkan bentuk pementasan dan kelompk teater
yang sekiranya tepat melakonkannya. Ide ini akan diejewantahkannya dalam bentuk
kolosal yang berarti dalam pementasannya melibatkan banyak pemain, kru, dan
ornament pentas teater yang sangat kompleks. Tentu Trijoko sudah membuang jauh
angan pengeksekusian ide ini dalam bentuk sekenario sinetron karena haram bagi
Trijoko menulis sekenario sinetron. Trijoko masih konsisten beranggapan bahwa
sinetron itu murahan, picisan, atau apalah yang menunjukkan harga diri seni
pertunjukan yang rendah. Bagi Trijoko, sinetron adalah produk kapitalis dan
instan yang menyedihkan. Sebuah produk budaya massal yang jauh sekali dari
nilai-nilai sastrawi da tentu saja tak bisa dibandingkan dengan keagungan seni
teater.
Jika pun pada akhirnya dia mengikuti sintron Anak Jalanan hingga
episode 1345, itu semua tak lebih karena terpaksa belaka. Sundari, istri
tersayangnya, keranjingan nonton sintron itu. sementara televise di
rumahnya Cuma satu. Ia tak punya
kegiatan lain selain menemani Sundari nonton. Sebenarnya ia ingin sekali keluar
rumahh tetapi Sundari telah menetapkan tata tertib rumah tangga yang salah satu
butirnya, tepatnya di nomor 5, berisi larangan keluar rumah di atas jam 7 malam
tanpa pengawasan melekat dari Sundari. Trijoko harus tunduk pada tata tertib
itu karena jika tidak, maka Sundari akan meradang dan hingga kini ia masih
gentar menghadapi kemarahan Sundari.
Tampak kegiatan selain menemani nonton sinetron pun bakal sia-sia.
Trijoko tak akan bisa konsentrasi menulis karena Sundari selalu menyalurkan
suara televise dengan speaker aktif berdaya 14000 pmpo. Suara yang
keluar dari speaker itu sungguh menggelegar. Konsentrasi sekhusyuk apa
pun dijamin bisa buyar seketika. Berpura-pura menulis pun bakalan sia-sia
karena biasanya pula, selain minta ditemani, Sundari juga minta Trijoko memijit
badannya atau menggaruki punggungnya.
Pelayanan suami semacam ini telah mereka sepakati dan sudah menjadi
kewajaran. Maklum, setiap harinya Sundarilah yang bekerja. Sementara, sebagai
seniman sejati, Trijoko pantang mencari nafkah di luar bidang kesenian. Maka
seperti ketetapan celaka yang tak mungkin dielakkan, ketika proyek berkesenian
Trijoko sepi seperti akhir-akhir ini dan biasanya bertahan hingga sepanjang
tahun, Sundarilah yang menjadi kepala keluarga di rumah tangga mereka.
Kedudukan Sundari sebagai kepala keluarga ini tak sebatas bermakna kiasan tapi
juga harfiah. Sebuah kenyataan pahit yang harus Trijoko terima dengan lapang
dada dan mungkin hanya anak yang akan mengubah ketimpangan yang dialaminya itu.
trijoko terus mengusahakan keberadaan anai itu meski sejauh empat tahun
pernikahan mereka ini Sundari belum hamil juga. Sejauh ini Trijoko hanya
mendapat setengah nikmat dari persenggamaan dan separuh perih akibat cakaran
kuku dan gigitan Sundari yang senatiasa menjelma macam kumbang untuk urusan
ranjang.
Trijoko adalah penulis nasakh teater autodidak. Oleh rekan-rekan
sekomunitasnya, ia dianggap sangat berbakat. Dialog yang terbangun dalam
naskahnya senantiasa hidup dan menampakkan hal-hal unik dari tokoh-tokohnya.
Kemunculannya dikomunitas teater ditandai dengan kemenangannya seabgai juara
harapan 3 dalam sebuah lomba penulisan naskah teater yang digelar dewan
kesenian kota itu. capaian ini diangap sebagai sebuah capaian besar, baik olehnya
mapun para dramawan senior kota itu meski jumlah eseluruhan naskah masuk yang
diterima panitia lomba hanya 9 naskah. Sebagai penghargaan, semua naskah yang
menang ataupun masuk nominasi bakal dipentaskan. Dewan kesenian kota itu, yang
sebelumnya mendapat sorotan tajam karena dianggap menganaktirikan teater dan
lebih memuliakan sastra dan cabang seni lain, seakan menemukan jalan terang
dengan menggelar rangkaian pementasan itu. pementasan teater selama seminggu
yang dinamai pekan teater itu sanggup memuaskan banyak pihak, terutama para
penyinyir yang sebenarnya berasal dari para dramawan yang terlalu sepi proyek.
Naskah teater Trijoko yang berjudul Wajah yang Terkoyak mendapat
giliran pentas di hari keempat, tepatnya hari Kamis Pahing. Naskah yang bercerita
tentang kehidupan seorang pemuda yang wajahnya terbeset kawat berduri ketika
maling mangga tetangganya itu ternyata menyedot banyak animo masyarakat. Naskah
realis yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari itu dipentaskan dengan
hampir sempurna oleh Kelompok Teater Tong Setan, yang sesuai namanya kebanyakan
aktornya adalah mantan atlet tong setan, pertunjukan atraksi kendaraan bermotor
di pasa malam. Tak ayal lagi pementasan naskah Trijoko menjadi bintang pada
pekan teater itu dan dengan itu pula nama Trijoko lantas melambung menjadi
penulis naskah teater terkemuka di kota itu.
Gelar mentereng itu pual membuat Sundari kesengsem kepadanya.
Mereka bertemu kali pertama saat pementasan naskah kedua Trijoko yang berjudul Berahi
Terlarang. Naskah yang agak eksotis
itu kembali dilakonkan dengan prima kali ini leih Sanggar Seni Tari SARI Rapet
yang anggotanya kebanyakan berasal dari pensiunan PSK di lokalisasi Madu Manis.
Kisah tentang gadis bunga desa yang tergila-gila pada pengamen kurang was dalam
teater itu ternyata menuliar kepada Sundari. Bedanya, Sundari tergila-gila
kepada penulis naskahnya yakni Trijoko, pemuda nyentrik yang saat itu mengaku
memiliki tiga dekik (lesung pipit) dan punya kebiasaan unik bersin tiga
kali berturut-turut.
Pada mulanya Trijoko memang jual mahal tapi lama-kelamaan kemurahan
hati Sundari, yang hobi mentraktirnya, melumerkan keteguhan hatinya. Semasa
pacaran, Sundari senantiasan menuruti permintaan Trijoko, mulai dari jaket
kulit kerang hingga kipas angina. Urusan rokok dan makan bareng un Sundari yang
menaggungnya. Trijoko selalu berdalih bahwa akan mengembalikan semua itu dan
mencatatnya sebagai pinjaman, kelak ketika ada proyek lagi. Dalih itu ternyata
menjelma dalil dan terus berlaku hingga mereka menikah. Segala yang dianggap
pinjaman itu tak pernah dikembalikan.
Tapi apa pun itu, hati Sundari telah tergadai dalam diri Trijoko.
Mereka pun sepakat menikah. Resepsinya digelar besar-besaran oleh keluarga
Sundari dan diunduh secara kecil-kecilan oleh
keluarga Trijoko. Semua uang sumbangan dihibahkan bagi kesejahteraan
kedua mempelai. Sehabis resepsi, Sundari menanyakan perihal dekik ketiga
Trijoko selain pipi kiri dan kanannya. Dengan enteng Trijoko membuka mulutnya
dan menunjuk gusi kiri bawahnya. Dekik ketiga Trijoko berada di gusi
itu. dekik itu tak lain adalah bekas sariawan akut. Pada momen itu pula
Sundari merasa resmi dibohongi dan memaki dalam hati. Dengan wajah masam, ia berkata tajam kepada
Trijoko bahwa dia juga punya dekik. Ketika Trijoko ingin mengetahuinya,
Sundari membuka pakaiannya dan menunjukkan pusarnya.
Menginjak tahun kedua pernikahan dan kehidupan mereka stabil
begitu-begitu saja sampailah Sundari pada kesimpulan bahwa seniman itu setengah
nikmat dipacari tapi tak enak sama sekali saat dinikahi. Tiadanya perubahan apa
pun dalam kehidupan rumah tangga mereka membuat perangai asli Sundari keluar.
Sundari menjelma diktaktor sejati dan rumah tangga mereka menjadi tirani.
Sundari dengan semena-mena menetapkan tata tertib rumah tangga mesti Trijoko
patuhi. Trijoko sebenarnya sempat bernotak tapi perlawanannya berhasil
dipatahkan dengan mudah oleh Sundari. Maklum, Sundari adalah pemegang sabuk
hitam karate dan juara bertahan kompetisi karakte tiga kaliberturut-turut di
tingkat kabupaten. Bahkan, Sundari sempat ikut PON, tapi sayang langsung
didiskualifikasi karena menyerang wasit yang memimpin pertandingannya karena
dianggapnya tak adil. Karier professional Sundari sebagai karakteka langsung
tamat akibat insiden patah tulang wasit tersebut.
Kemampuan beladiri inilah yang membuat Sundari dipercaya sebagai
kepala satpam sebuah supermarket besar di kotanya. Di tempat kerjanya itu
Sundari membawahi 15 lelaki kekar dan bertampang sangar. Karena kuasanya ini
pula, Sundari selalu bisa memilih jadwal kerja pagi dan sorenya ia bisa
menonton sinetron Anak Jalanan kesukaannya itu.
Jadi kebebasan Trijoko sebenarnya terjadi saat Sundari sedang
bekerja. Trijoko yang mengaku seniman dan memuja kebebasan sebenarnya adalah
tahanan rumah tangga. Dan karena taka da seniman, apalagi yang bisa mangkal di
taman budaya, yang keluyuran pagi atau siang maka jadilah Trijoko makhluk
kesepian. Ia sering mengutuk kebiasaan tak disiplin rekan-rekan senimannya itu.
apakah seorang seniman itu memang harus begadang dan bangun kesiangan? Jika ia,
berarti Trijoko bukan seniman sejenis itu.
Karena tak memiliki teman, maka ponsellah teman terbaik Trijoko.
Dalam urusan ini Sundari agak prihatin. Ia membelikan Trijoko ponsel cukup
canggih dan menganggarkan pulsa yang mencukupi pula. Ketika taka da ide untuk
ditulis, sepanjang hari Trijoko sibuk dengan ponselnya. Fitur paling disukainya
tentu saja facebook karena di sana Trijoko bisa berteman dengan banyak orang,
baik yang dikaguminya, mengaguminya, maupun orang yang tak dikenalnya sama
sekali. Selain berjejaring social, ia juga dapat memantau perkembangan dunia,
baik lokal, nasional, maupun internasional dari sana. Di facebook Trijoko
tercata memilki 3241 teman, tapi teman sebanyak itu seperti tak berimbas pada
popularitasnya. Postingannya senantiasa sepi seperti warung sate jamu cabang
baru. Trijoko sungguh heran dengan kenyataan ini. Jangankan ada yang
berkomentar, teman yang setor jempl pun sangat jarang.
Ia kagum dengan akun penyair sekotanya. Pstingan kawannya yang
memakai nama akun Dion Pancasona, sedang nama aslinya Sudiono dan biasa
dipanggil Dudung itu senantiasa ramai. Jumlah komentar pada postingannya stabil
puluhan bahkan hingga ratusan sedangkan jumlah aku penyetor jempolnya ajeg di
atas 400. Padahal, menurutnya, postingan kawannya itu biasa-biasa saja dan
kelasnya masih jauh dari postingannya yang senantiasa sepi itu. bahkan ada satu
momen yang membuat Trijoko nyaris kehilangan akal sehat. Suatu ketika Dian
Pancasona ini hanya posting tanda baca titik. Postingan yang hampir tak
kelihatan itu ternyata menyedot lebih banyak komentar daripada biasanya. Isi
komentar terpecah menjadi tiga golongan yaitu yang menanyakan kabar,
kekhawatiran bahwa telah terjadi sesuatu dengannya, dan tafsiran bahwa titik
itu adalah symbol postingan terakhir di facebooknya. Golongan ketiga ini
menjadi golongan komentator mayoritas dalam postingan itu yang menjadikan para
akun penggemarnya sedih berjemaah. Tak ada satu komentar pun dalam postingan
itu yang ditanggapi Dion. Ketika pada akhirnya Dion Pancasona merilis postingan
baru yang berisi klarifikasi bahwa postingan titik tadi hanya karena ponselnya
terpencet maka lega pulalah para pengikutnya itu secara berjamaah.
Trijoko benar-benar tak habis piker bagaimana mungkin akun
sesombong Dion Pncasona yang sangat jarang menganggapi komentar dari
penggemarnya itu bisa disukai banyak akun dan memilki massa akun yang loyal.
Ketika ada kesempatan bertemu langsung dengannya, Trijoko tanpa malu-malu
menanyakan resep menjadi selebritas facebook.
Saran yang diberikan Dion Pancasona sungguh tak terduga. Ia
menyarankan Trijoko membuat akun palsu sebanyak mungkin untuk melambungkan
namanya. Tugas akun-akun itu selain berkomentar dan setor jempol juga
membagikan postingannya. Akun-akun itu pulalah yang menadi penggemar garis
kerasnya Trijoko dan akan berkonfrontasi dengan akun lain yang coba mengganggu
stabilitas akun Trijoko. Dahulu Dion juga melakukan hal itu. ia membuat akun
palsu sebanyak 12 dengan hata kunci yang sama agar mudah mengingatnya, dan kini
ia tinggal memetik buah manis dari jerih payahnya.
Saran itu dijalankan Trijoko. Untuk sementara ia membuat dua akun
palsu yakni Fredi Surga yang Tak Dirindukan, yang nama akunnya merupakan
kombinasi dari nama penulis favoritnya yakni Fredi S dan judul film faforitnya,
serta satu lagi akun dinamainya Gracia Senantiasa Bermuhasabah, sebuah nama
yang mencerminkan toleransi dan religiusitas yang tinggi. Karena akun palsu itu
dihidupi Trijoko sepenuh hati dan
kelihatannya rukun bersama akun asli Trijoko yang bernama Trijoko Mbaurekso.
Ketika postingan Trijoko sepi maka kedua akun palsu itulah yang berdinas
meramaikannya. Meski sadar telah melakukan kepalsuan dan berlaku seperti orang
gila yang bicara sendiri namun Trijoko juga memetik manfaat dari prilaku ini.
Ketika ia sedang berdialog dengan kedua akun palsunya itu, berarti ia juga
mengasah kemampuanya menciptakan dialog dalam naskah drama. Trijoko dituntut
membuat komentar yang alamiah dan tidak mencurigakan. Trijoko jadi paham akan
seni merendah ke selokan untuk menyanjung diri sendiri setinggi langit. Ini
kini sangant menikmati kehidupan berfacebooknya dan terpikir untuk membikin
tiga atau empat akun palsu lagi agar facebooknya jadi lebih seru.
Kepalsuan yang menyenangkan itu selau berakhir ketika Sundari
pulang. Sundari telah mengeluarkan larangan keras kepada Trijoko untuk tidak
menyentuh ponsel saat bersamanya, kecuali ada panggilan atau pesan penting.
Larangan itu telah diabadikan dalam tata tertib rumah tangga tepatnya di nomor
13 tepat di bawah larangan memakai sempak Sundari. Dan seperti biasanya,
Trijoko dengan ketaatan tinggi mematuhinya.
Di pagi yang cerah setelah mengantar Sundari ke tempat kerjanya,
Trijoko mulai mengeksekusi idenya menjadi naskah teater Anak Jaranan. Karena ragangan cerita sudah demikian gambling
di benaknya maa penulisan naskah itu mengalir dengan lancarnya. Benar-benar
seperti berkah, semua tertulis dengan mudah hingga Trijoko lupa waktu.
Saking asyiknya, Trijoko tak makan sama sekali dan hanya minum lima
gelas jus tapai ketan ketika mengetikkan
naskah itu. tak terasa hampir delapan jam ia menulis di laptop ketika alarm
ponselnya berbunyi, peringatan untuk menjemput Sundari. Trijoko pun bergegas
menyimpan file tanpa mematikan laptopnya karena masih ada sedikit bagian akhir
yang mesti dirampungkannya. Prioritas utamanya tentu menjemput Sundari kareka
jika ia terlambat itu berarti marabahaya yang lebih besar telah menantinya.
Sundari akan menghadiahinya bogem mentah ringan di pahanya sebagai hukuman
ketidakdisiplinan.
Untunglah Trijoko tidak terlambat. Ia tiba di supermarket sebelum
Sundari menunggunya. Tetapi, saat itu rupanya suasana hati Sundari sedang tidak
baik. Kerunyaman dan amarah tampak tersembunyi di wajahnya yang terlihat lebih
gelap. Trijoko tahu pasti akan hal itu dan sepanjang perjalanan ia memilih diam
saja, tak berani memulai percakapan. Trijoko takut bila amarah Sundari meledak
kepadanya. Trijoko hanya mampu menduga-duga. Mungkin kecolongan lagi seperti
penyebab amrahnya tempo hari. yang jelas kesuraman wajah Sundari itu bukan
disebabkan oleh menstruasi.
Sesampainya di rumah Sundari langsung mandi. Trijoko melanjutkan
penulisan naskahnya. Saking asyiknya, ia tak menadari kalau Sundari sudah
berdiri di belakangnya dan bertanya dengan nada dingin perihal tulisan Trijoko.
Dengan riang dan bangga karena seolah mendapat apresiasi dan kepedulian,
Trijoko menjelaskan panjang lebar tentang naskahnya itu. akan tetapi, reaksi
Sundari benar-benar di luar perkiraan Trijoko. Setelah mendengar paparan
Trijoko, kemarahan Sundari seakan memuncak dan pecah.
“Jadi kamu menulis naskah itu untuk mengolok-olok sinetron
favoritku.”
“Bukan begitu, sayang. Ini hanya versi teater dari sinetron itu.”
“Tapi dari ceritamu tadi jelas sekali bahwa kamu berniat menjadikan
sinetron Anak Jalanan sebagai olok-olok. Aku tak terima jika olok-olok
itu dipentaskan dan ditonton banyak orang. Kamu kira aku bodoh apa? Hapus naskh
itu!”
“Tapi aku sudah susash payah menuliskannya sejak tadi pagi. Tolong
kali ini saja hargai jerih payahku, Sayang.”
“Aku tak akan menghargai segala jenis olok-olok apalagi terhadap
sinetron kesayanganku. Hapus sekarang!”
“Tolong Sayang, ini bakal menjadi karya terbaik sepanjang
karierku.”
“Hapus atau kau akan menaggung akibatnya.”
Sundari merempas kepalan tangan kanannya dengan telapak tangan
kirinya sementara gemetar tubuh Trijoko
tak bisa disembunyikan lagi. Akhirnya
dengan tangan bergetar Trijoko menghapus naskah Anak Jaranan yang ditulisnya sejak tadi pagi. Sundari
menyaksikan langsung proses penghapusan itu dengan wajah semerah saga. Bahkan,
Sundari memeriksa sendiri recycle bin laptop guna memastikan bawha
naskah itu sudah terhapus dengan tuntas.
Ketika Sundari mulai menonton lagi sinetron Anak Jalanan episode 1346 gemetar di tubuh Trijoko belum
juga hilang. Trijoko jadi merasa begitu rindur dengan kedua akun palsunya.
Andai saja Fredy Surga yan Tak Dirindukan dan Gracia Senantiasa Bermuhasabah
benar-benar ada, mungkin mereka berdua bisa membantunya mengudeta kediktatoran
Sundari. Ya, andai saja.
Solo, 2016
0 komentar:
Posting Komentar